Tampilkan postingan dengan label un smp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label un smp. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 14, 2014

Pengumuman Kelulusan UN SMP 2014

 Hasil UN SMP 2014
DENPASAR(Okezone) - Pengumuman Ujian Nasional (UN) tingkat SMP sederajat diumumkan secara nasional serentak pada Sabtu 14 Juni 1014. Di Provinsi Bali, berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) provinsi, ada 12 siswa SMP yang tidak lulus UN tahun ini.

“Dari 12 siswa SMP yang tidak lulus UN, terbanyak disumbang Kabupaten Klungkung, yakni tujuh siswa, Kabupaten Karangasem dua siswa, dan masing-masing satu siswa tidak lulus dari Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Tabanan,” beber Kepala Disdikpora Provinsi Bali, Tjokorda Istri Agung (TIA) Kusuma Wardhani, Jumat (13/6/2014).

Meski demikian, tambah dia, tingkat kelulusan UN SMP di Bali tahun ini merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir.

”Dari 60.075 siswa SMP yang mengikuti UN di Bali, dengan 12 siswa yang tidak lulus itu artinya tingkat kelulusan UN tahun ini 99,98 persen atau dengan kata lain yang tidak lulus hanya 0,02 persen,” ungkapnya.

Pada UN 2013 sebanyak 230 siswa tidak lulus, 2012 sebanyak 145 siswa, 2011 sebanyak 38 siswa, dan 2010 ada 19 siswa.

”Kami sudah mengimbau Disdikpora Kabupaten/Kota untuk mendampingi apakah 12 siswa yang tidak lulus akan mengulang penuh ke kelas IX atau mengikuti UN Program Paket B,” ungkapnya.

Berdasarkan jumlah nilai rata-rata UN, peringkat tiga besar SMP yang mendapat nilai tertinggi, yakni SMPN 3 Denpasar dengan nilai rata-rata (36,48), SMPN 10 Denpasar (36,18), dan SMPN 1 Denpasar (36,12).

Sedangkan siswa SMP peraih nilai UN tertinggi ada dua orang, yakni Luh Ayu Nanamy KES dan Muhammad Iqbal Galih Widiyana. Dua siswi yang berasal dari sekolah yang sama, yakni SMPN 1 Kuta, itu memeroleh nilai 39,40.

Untuk ranking kedua, diraih oleh AA Arumi Jayanti Kusumasari (SMPN 1 Denpasar), Albertus Gagas Pradana Dian Nugraha (SMPN 3 Denpasar), I Putu Satya Ariwinata (SMPN 7 Denpasar) dengan jumlah nilai sama-sama yakni 39,15.

Peringkat ketiga diraih oleh Putu Cantika Jenise Asri Masta (SMPN 1 Denpasar) dengan jumlah nilai 39,10.

Di sisi lain, dari 635 orang yang mengikuti UN Program Paket B, ada 13 orang yang tidak lulus, yakni di Kota Denpasar sembilan orang, Klungkung (2), Karangasem (1), dan Jembrana (1).
(ant//ton)
sumber : http://news.okezone.com/read/2014/06/13/340/998435/12-siswa-smp-di-bali-tak-lulus-ujian-nasional
Pengumuman Kelulusan UN 2014

Selasa, April 28, 2009

PELAKSANAAN UN 2009

Hari pertama UN SMP 2009, Senin 27 April 2009 di SMP Dwijendra berjalan lancar. Semua peserta UN pukul 07.00 Wita sudah berkumpul di lapangan basket depan Padmasana untuk melakukan Tri Sandhya bersama.
Walau masih ada peserta yang belum tepat mengisi paket soal yang dikerjakannya seperti untuk Paket A seharusnya ditulis 27 beberapa peserta masih mengisi dengan 01. Begitu juga sebaliknya Paket Genap (P-60) masih ada yang menghitamkan 02.
Semoga kesalahan ini tidak terjadi pada hari berikutnya, sehingga peserta sesuai harapan kita bersama bisa LULUS 100%. Dumadak ja!

Senin, Agustus 11, 2008

MKKS Pertahankan Ulangan Umum Terpadu

Kelulusan UN SMP makin Berat
http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=11&id=3342

Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Denpasar akan mempertahankan format ulangan umum terpadu yang diterapkan sejak tahun ajaran 2007/2008 lalu. Pasalnya, kebijakan menggelar ulangan umum terpadu itu dinilai sangat strategis dalam rangka meningkatkan dan mempercepat upaya pemerataan kualitas pendidikan di Denpasar.

Ketua MKKS SMP Kota Denpasar Drs. I Made Darma, M.Pd. mengatakan hal itu, Minggu (10/8) kemarin. Selain itu, kebijakan menggelar ulangan umum terpadu secara serentak di seluruh SMP negeri dan swasta se-Kota Denpasar merupakan reaksi positif atas konsistensi pemerintah meningkatkan standar nilai minimal kelulusan ujian nasional (UN) dari tahun ke tahun.

Darma yang juga Kepala SMPN 3 Denpasar ini menegaskan, syarat kelulusan UN yang terus diperberat dengan jumlah mata pelajaran yang kemungkinan "dibengkakkan" membuat pihak sekolah tidak bisa lagi mempersiapkan anak didiknya secara instan. Dikatakan, strategi persiapan UN yang digulirkan hanya beberapa bulan menjelang UN dinilai tidak representatif lagi. Namun, persiapan itu harus diformulasikan secara terstruktur dan tersistematisasi sejak anak didik itu duduk di semester awal (kelas I-red). Dengan begitu, anak didik sudah dikondisikan siap UN sejak dini, mengingat tingkat kesulitan soal-soal ulangan umum terpadu diformat setara dengan soal-soal UN.

"Tahun ajaran lalu, ulangan umum terpadu itu hanya diterapkan pada semester ganjil. Secara pribadi, saya lebih sreg jika format ulangan umum terpadu itu juga diterapkan pada semester genap," katanya dan menambahkan, usulan pelaksanaan ulangan umum terpadu pada semester genap itu akan digulirkannya pada rapat rutin MKKS SMP Kota Denpasar, Rabu (13/8) mendatang.

Darma menambahkan, soal ulangan umum terpadu itu disusun oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran-red). Tingkat kesulitan soal mengacu kepada standar soal UN yang ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Tahun lalu, mata pelajaran yang dijadikan materi ulangan umum terpadu dititikberatkan pada mata pelajaran yang di-UN-kan yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA ditambah dua mata pelajaran non-UN yakni IPS dan PPKN. "Ulangan umum terpadu wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas 1, 2 dan 3 SMP negeri/swasta di Denpasar. Khusus ulangan umum terpadu untuk siswa kelas 3 diberlakukan pola dua paket soal berbeda dalam satu ruangan seperti yang diberlakukan pada UN sesungguhnya," ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Dikbud Kota Denpasar Drs. I Gusti Lanang Jelantik, M.Si. merespons positif komitmen MKKS SMP mempertahankan format ulangan umum terpadu. Dikatakan, kebijakan itu jelas akan sangat membantu pihaknya dalam memetakan kualitas pendidikan SMP di seluruh Denpasar. "Dengan begitu, Dikbud mendapatkan gambaran objektif dalam merancang kebijakan guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan di SMP-SMP yang dinilai kedodoran," katanya. (kmb13)