Senin, Oktober 30, 2017

Hasil Uji Coba UN Tahap Pertama Kelas IX 2017/2018


Berikut ini hasil uji coba Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2017/2018 yang telah dilaksanakan pada 17 - 24 Oktober 2017. Namun sampai berita diturunkan hasil nilai bidang studi Matematika belum juga keluar.
Bagi siswa yang nilainya belum mencapai ketuntasan maka nilainya akan berwarna merah.


Minggu, Oktober 29, 2017

KUIS KELAS VII : Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan


Menurut Wikipedia Indonesia, Hari raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).


Rangkaian Hari Raya Galungan

Tumpek Wariga

Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wariga disebut Tumpek Wariga, atau Tumpek Bubuh, atau Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah jatuh 25 hari sebelum Galungan.  Pada hari Tumpek Wariga Ista Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan. Adapun tradisi masyarakat untuk merayakannya adalahh dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa Bubuh (bubur) Sumsum yang berwarna seperti:
  1.  Bubuh putih untuk umbi-umbian
  2. Bubuh bang untuk padang-padangan
  3. Bubuh gadang untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara generatif
  4. Bubuh kuning untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara vegetatif
Pada hari Tumpek Wariga ini semua pepohonan akan disirati tirta wangsuhpada/air suci yang dimohonkan di sebuah Pura/Merajan dan diberi banten berupa bubuh tadi disertai canang pesucian, sesayut tanem tuwuh dan diisi sasat. Setelah selesai kemudian pemilik pohon akan menggetok atau mengelus batang pohon sambil berucap sendiri (bermonolog):
“Dadong- Dadong I Pekak anak kija  I Pekak ye gelem I Pekak gelem apa dong? I Pekak gelem nged Nged, nged, nged”
Dialog di atas bermakna harapan si pemilik pohon agar nantinya pohon yang diupacarai dapat segera berbuah/menghasilkan, sehingga dapat digunakan untuk upacara hari raya Galungan. Peringatan hari ini merupakan wujud Cinta Kasih manusia terhadap tumbuh-tumbuhan.

Sugihan Jawa

Sugihan Jawa berasal dari 2 kata: Sugi dan Jawa. Sugi memiliki arti bersih, suci. Sedangkan Jawa berasal dari kata jaba yang artinya luar. Secara singkat pengertian Sugihan Jawa adalah hari sebagai pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia (Bhuana Agung). Pada hari ini umat melaksanakan upacara yang disebut Mererebu atau Mererebon. Upacara Ngerebon ini dilaksanakan dengan tujuan untuk nyomia/menetralisir segala sesuatu yang negatif yang berada pada Bhuana Agung disimbolkan dengan pembersihan Merajan, dan Rumah. Pada upacara Ngerebon ini, dilingkungan Sanggah Gede, Panti, Dadya, hingga Pura Kahyangan Tiga/Kahyangan Desa akan menghaturkan banten semampunya. Biasanya untuk wilayah pura akan membuat Guling Babi untuk haturan yang nantinya setelah selesai upacara dagingnya akan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Sugihan Jawa dirayakan setiap hari Kamis Wage wuku Sungsang

Sugihan Bali

Sugihan Bali memiliki makna yaitu penyucian/pembersihan diri sendiri/Bhuana Alit (kata Bali=Wali=dalam). Tata cara pelaksanaannya adalah dengan cara mandi, melakukan pembersihan secara fisik, dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih sebagai simbolis penyucian jiwa raga untuk menyongsong hari Galungan yang sudah semakin dekat. Sugihan Bali dirayakan setiap hari Jumat Kliwon wuku Sungsang

Hari Penyekeban

Hari Penyekeban ini memiliki makna filosofis untuk “nyekeb indriya” yang berarti mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.Hari Penyekeban ini dirayakan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan.

Hari Penyajan

Penyajan berasal dari kata Saja yang dalam bahasa Bali artinya benar, serius. Hari penyajan ini memiliki filosofis untuk memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan. Menurut kepercayaan, pada hari ini umat akan digoda oleh Sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian diri umat Hindu untuk melangkah lebih dekat lagi menuju Galungan. Hari ini dirayakan setiap Senin Pon wuku Dungulan.

Hari Penampahan

Hari Penampahan jatuh sehari sebelum Galungan, tepatnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan. Pada hari ini umat akan disibukkan dengan pembuatan [penjor] sebagai ungkapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugrah yang diterima selama ini, penjor ini dibuat dari batang bambu melengkung yang diisi hiasan sedemikian rupa. Selain membuat penjor umat juga menyembelih babi yang dagingnya akan digunakan sebagai pelengkap upacara, penyembelihan babi ini juga mengandung makna simbolis membunuh semua nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Kepercayaan masyarakat Bali pada umumnya, pada hari Penampahan ini para leluhur akan mendatangi sanak keturunannya yang ada di dunia, karena itulah masyarakat juga membuat suguhan khusus yang terdiri atas nasi, lauk-pauk, jajanan, buah, kopi, air, lekesan (daun sirih dan pinang) atau rokok yang ditujukkan kepada leluhur yang "menyinggahi" mereka di rumahnya masing-masing.

Punjung atau Suguhan untuk para Leluhur

Hari Raya Galungan

Pagi hari umat telah memulai upacara untuk Galungan ini. Dimulai dari persembahyangan di rumah masing-masing hingga ke Pura sekitar lingkungan. Tradisi yang kerap kita jumpai pada Galungan adalah Tradisi “Pulang Kampung” , umat yang berasal dari daerah lain, seperti perantauan akan menyempatkan diri untuk sembahyang  ke daerah kelahirannya masing-masing.
Bagi umat yang memiliki anggota keluarga yang masih berstatus [Makingsan di Pertiwi] (mapendem/dikubur), maka umat tersebut wajib untuk membawakan banten ke kuburan dengan istilah Mamunjung ka Setra

Kuburan saat hari Raya Galungan
, banten tersebut terdiri atas punjung seperti telah disebutkan di atas, disertai tigasan/kain saperadeg (seadanya) dan air kumkuman (air bunga).

Persembahan pada saat Hari Raya Galungan


Hari Umanis Galungan

Pada umanis Galungan, umat akan melaksanakan persembahyangan dan dilanjutkan dengan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi.
Anak-anak akan melakukan tradisi ngelawang pada hari ini. Ngelawang adalah sebuah tradisi, di mana anak-anak akan menarikan barong disertai gambelan dari pintu rumah penduduk satu ke yang lainnya (lawang ke lawang), penduduk yang mempunyai rumah tersebut kemudian akan keluar dari rumah sambil membawa canang dan sesari/uang, penduduk percaya bahwa dengan tarian barong ini dapat mengusir segala aura negatif dan mendatangkan aura positif. Umanis Galungan jatuh pada hari Kamis Umanis wuku Dungulan

Hari Pemaridan Guru

Kata Pemaridan Guru berasal dari kata Marid dan Guru.Memarid sama artinya dengan ngelungsur/nyurud (memohon) , dan Guru tiada lain adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dapat diartikan bahwa hari ini adalah hari untuk nyurud/ngelungsur waranugraha dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Guru. Dirayakan pada Sabtu Pon wuku Galungan.

Ulihan

Ulihan artinya pulang/kembali. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah hari kembalinya para dewata-dewati/leluhur ke kahyangan dengan meninggalkan berkat dan anugrah panjang umur. Dirayakan pada Minggu Wage wuku Kuningan

Hari Pemacekan Agung

Kata pemacekan berasal dari kata pacek  yang artinya tekek  (Bhs Bali.) atau tegar. Makna pemacekan agung ini adalah sebagai simbol keteguhan iman umat manusia atas segala godaan selama perayaan hari Galungan. Dirayakan pada Senin Kliwon wuku Kuningan.

Hari Kuningan

Hari Suci Kuningan dirayakan umat dengan cara memasang tamiang,kolem, dan endong.Tamiang adalah simbol senjata Dewa Wisnu karena menyerupai Cakra, Kolem adalah simbol senjata Dewa Mahadewa, sedangkan Endong tersebut adalah simbol kantong perbekalan yang dipakai oleh Para Dewata dan Leluhur kita saat berperang melawan adharma. Tamiang kolem dipasang pada semua palinggih, bale, dan pelangkiran,  sedangkan endong dipasang hanya pada palinggih dan pelangkiran.
Tumpeng  pada banten yang biasanya berwarna putih diganti dengan tumpeng berwarna kuning yang dibuat dari nasi yang dicampur  dengan kunyit yang telah dicacah dan direbus bersama minyak kelapa dan daun pandan harum.
Keunikan hari raya Kuningan selain penggunaan warna kuning adalah yaitu persembahyangan harus sudah selesai sebelum jam 12 siang (tengai tepet), sebab persembahan dan persembahyangan setelah jam 12 siang hanya akan diterima Bhuta dan Kala karena para Dewata semuanya telah kembali ke Kahyangan. Hal ini sebenarnya mengandung nilai disiplin waktu dan kemampuan untuk memanajemen waktu. Warna kuning yang identik dengan hari raya Kuningan memiliki makna kebahagiaan,keberhasilan, dan kesejahtraan.

Hari Pegat Wakan

Hari ini adalah runtutan terakhir dari perayaan Galungan dan Kuningan. Dilaksanakan dengan cara melakukan persembahyangan, dan mencabut penjor yang telah dibuat pada hari Penampahan. Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah. Pegat Wakan jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan setelah galungan.

Begitulah rangkaian Perayaan Galungan di Bali, khususnya yang dilaksanakan umat Hindhu Dharma. Pada saat perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan sekolah meliburkan siswa-siswi selama dua minggu. Nah selama libur ini tidak semua kegiatan pembelajaran ditiadakan, seperti mapel TIK SMP Dwijendra Denpasar juga memberikan tugas berupa  online untuk diikuti Siswa Kelas VII seperti dibawah ini.


Senin, Oktober 16, 2017

KUIS 8 : VLOOKUP

Untuk menguji ketrampilan siswa kelas VIII dalam penguasaan materi Microsoft Excel tentang materi VLOOKUP , maka siswa diharuskan mengerjakan tugas ini melalui komputer, laptop ataupun HP Smartphone yang dimiliki.
Tugas ini dikerjakan dalam waktu maksimal dua minggu, yaitu tepatnya terakhir Sabtu, 28 Oktober 2017.  File disimpan dengan format kelas no-absen nama contoh 8a 40 Mercy  dan dikirim ke Pak Buda boleh melalui semua media sosial atas nama Pak Buda.



Selamat mengerjakan!

Kamis, Oktober 05, 2017

Prestasi Siswa SMP Dwijendra Denpasar Juli - September 2017

Awal tahun pelajaran 2017/2018 merupakan tahun sarat prestasi bagi SMP Dwijendra Denpasar. Hal ini dibuktikan dengan deretan prestasi yang diperoleh siswa-siswi SMP Dwijendra Denpasar sampai akhir September 2017, seperti berikut :

  • 1. Juara 3 Lomba Pop Sola Bali Tingkat SMP dalam Rangka Peringatan Hari Anak Nasional 2017, a.n :Ni Kadek Ayu Suciastiti, Pemerintah Kota Denpasar, 28 Juli 2017





  • 2. Juara 2 NQ B Putra Kejurda Wushu Provinsi Bali, a.n :Putu Herrya Adi Saputra dan Juara 2 NG B Putra Kejurda Wushu Provinsi Bali, a.n :Putu Herrya Adi Saputra, Pengurus Provinsi Wushu Bali, Klungkung, 18-20 Agustus 2017


  • 3. Juara 3 Fashion Show Yayasan Eka Dharma Cipta Sentosa, a.n : A.A Ngurah Surya Dharma Prayoga, Yayasan Eka Dharma Cipta Swntosa, Kota Denpasar, 27 Agustus 2017

  • 4. Juara 2 Lagu Pop Bali kategori C dalam September Bazaar Fiesta,a.n : 1.Ni Kadek Ayu Suciastiti, PV pro Prabaswari Production, Kota Denpasar, 17 September 2017

  • 5. Juara I Lomba Pengenter Acara/MC Putra tk. SMP, a.n: A.A NGurah Surya Dharma Putra, Juara III Lomba Pengenter Acara/MC putri tk. SMP, a.n: Luh Oming Padma Puspa Paramitha, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, 28 September 2017



  • 6. Juara I Olimpiade Bahasa Inggris, Universitas Mahendradatta, 2017

  • Deretan Prestasi ini semoga memberikan inspirasi dan motivator siswa lainnya untuk terus berkarya dan berprestasi.

    Minggu, Oktober 01, 2017

    PENGAYAAN :KUIS TINGKAT LANJUT DASAR KOMPUTER

    Sebelumnya admin minta maaf kepada semua pembaca blog ini karena gangguan koneksi internet di sekolah sehingga kuis sebagai tugas pengayaan ini terlambat di publish. Semoga semua maklum adanya.
    Ok langsung saja ikuti kuis dibawah ini !