Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 03, 2018

Dwijendra Kabaddi Competition 2017




Kabadi ialah sebuah permainan yg dibentuk dalam permainan tradisional India. Permainan ini sangat terkenal di Selatan Asia dan tersebar dengan meluas di Tenggara Asia, Jepun, dan Iran. Ia adalah permainan bangsa Bangladesh dan juga meluas di Tamil Nadu, Andura Pradesh, Punjab dan Maharasutran di India. Kabadi juga dimainkan oleh tentera British untuk tujuan hiburan, menjaga kemantapan badan dan juga untuk mengumpan tentera askar dan komuniti Asia British. Dalam satu permainan, 2 pasukan dibentuk yang mana terdiri daripada tujuh pemain. Gelanggang yang digunakan adalah 12.5m x 10m (separuh daripada gelanggang bola keranjang). Setiap pasukan mengandungi pemain simpanan seramai 5 orang. Permainan ini dilangsungkan selama 20 minit, dengan 5 minit setengah untuk rehat semasa pertukaran gelanggang. Satu pasukan akan menghantar penyerang kepada pasukan pihak lawan, yang mana bertujuan untuk menyentuh salah seorang daripada pemain pihak lawan sebelum patah balik kepada pasukannya. Pemain yang telah disentuh akan terkeluar dan meninggalkan padang. Sementara itu, pihak pertahanan membentuk sebuah rantai seperti berpegangan tangan antara satu sama lain. Jika rantai itu terputus, salah seorang pemain pertahanan akan meninggalkan padang. Sasaran pertahanan adalah untuk menghentikan penyerang balik ke pasukannya sebelum berhenti berehat. Jika penyerang berhenti sebelum sampai ke destinasi, penyerang itu akan meninggalkan padang. Pemain juga boleh melepasi sempadan garisan atau bahagian badan mencecah tanah di luar garisan, kecuali semasa bergelut dengan pasukan pihak lawan. Setiap pemain yang terkeluar, pihak lawan akan mendapat mata. Pasukan yang skor dua mata bonus, yang dipanggil lona, manakala semua pihak lawan akan tersingkir. Pada akhir perlawanan, pasukan yang mengumpul mata tertinggi akan menang. Permainan adalah berdasarkan kesesuaian umur dan berat. Permainan ini terdiri daripada satu pengadil, dua pembantu pengadil, satu penjaring dan dua pembantu penjaring.
SMP Dwijendra Denpasar sebagai salah satu sekolah dengan guru olahraga yang memiliki tingkat mobilitas tinggi menjadi yang pertama mengajarkan kepada siswa-siswanya. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya Dwijendra Kabaddi Competition antar grup antar kelas.
Kegiatan ini diselenggarakan Sabtu, 9 Desember 2017 di Gor Lila Buwana Denpasar. #latepost

Senin, November 27, 2017

SMP Dwijendra Berkabung

Hari ini, Senin, 27 Nopember 2017, keluarga besar SMP Dwijendra kehilangan salah satu guru senior. Beliau adalah Drs. I Ketut Resep, guru Bahasa Bali.


Kami Keluarga Besar SMP Dwijendra mengucapkan rasa berduka sedalam-dalamnya. Semoga sang almarhum "Amor Ring Acintya ". 


Hari Guru Tahun 2017




 


Hari PGRI dan Hari Guru Tahun 2017 di Yayasan Dwijendra Denpasar diperingati dengan melaksanakan upacara bendera. Pada saat itu juga diserahkan beberapa penghargaan atas prestasi dan dedikasi yang telah diperoleh oleh guru selama satu tahun. 
Untuk unit SMP juga diberikan penghargaan pada guru pavorit pilihan siswa yaitu Pak Komang Indra Sukma Amijaya dan Ibu Sri Puspita Novayanti. 


Rabu, Agustus 02, 2017

Download Kisi-Kisi Pretest UKG 2017

Dengan adanya SIM PKB (Sistem Informasi Pengembangan Kinerja Berkelanjutan) yang telah diaktifkan kembali oleh P4TK maka kesempatan bagi guru yang belum mengikuti UKG (Uji Kompetensi Guru) telah terbuka. UKG dan PLPG merupakan salah satu tolak ukur dalam pencairan dana sertifikasi guru. Oleh sebab itu sangat penting bagi guru yang belum mengikuti UKG sekiranya bisa mendaftarkan diri sebagai peserta SIM PKB.
Hasil gambar untuk pre test ukg
Pendaftaran dan Aktifasi Verval SIM PKB akan ditutup tanggal 14 Juli 2017. Maka akan segera diadakan pretest bagi guru yang belum melaksanakan UKG 2015 maupun guru yang pindah mapel setelah mengikuti UKG 2015. Oleh karenanya sebelum melaksanakan pretest UKG 2017 diharapkan bagi guru yang baru terdaftar sebagai anggota SIM PKB dengan nomor UKG berawalan 2016 dan guru yang sudah terdaftar UKG 2015 yang pindah mapel untuk mengetahui materi apa saja yang akan diujikan pada pretes UKG 2017 nanti.

Agar dapat memahami soal-soal yang akan diujikan pada UKG 2017, ada baiknya calon peserta pretest UKG 2017 untuk mengetahui dan memahami kisi-kisi UKG. Berikut kami sajikan Kisi-kisi lengkap UKG 2015 untuk pesiapan UKG 2017. Lengkapnya silahkan klik tautan download di bawah ini :

Semoga informasi mengenai Download Lengkap Kisi-Kisi UKG Persiapan UKG 2017 ini dapat bermanfaat bagi dunia keguruan. Sukses selalu pendidikan dan guru Indonesia. Salam Sertifikasi.

Sumber : Copas dari http://www.mardiyas.com/2017/07/download-lengkap-kisi-kisi-ukg.html

Senin, Juli 24, 2017

Download PK Guru Dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Copas dari http://kkgjaro.blogspot.co.id

Buku Pedoman Penilaian Kinerja Guru/PKG dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) sebenarnya petunjuk tekhnis atau Juknis PKG dan PKB ini bukanlah baran baru didunia pendidikan saat ini, buku petunjuk ini telah lama pun sudah rilis sebagai suatu cara penilaian kinerja guru untuk kompetenssi dalam kegiatan belajar mengajar maupun kepribadian serta kualifikasi akademik seorang Pendidik dan tenaga kependidikan.

Pengertian PKB/ Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan bagi guru yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa perubahan yang diinginkan berkaitan dengan keberhasilan siswa. Dengan demikian semua siswa diharapkan dapat mempunyai pengetahuan lebih, mempunyai keterampilan lebih baik, dan menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang materi ajar serta mampu memperlihatkan apa yang mereka ketahui dan mampu melakukannya.

PKB mencakup berbagai cara dan/atau pendekatan dimana guru secara berkesinambungan belajar setelah memperoleh pendidikan dan/atau pelatihan awal sebagai guru. PKB mendorong guru untuk memelihara dan meningkatkan standar mereka secara keseluruhan mencakup bidang-bidang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai profesi. Dengan demikian, guru dapat memelihara, meningkatkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilannya serta membangun kualitas pribadi yang dibutuhkan di dalam kehidupan profesionalnya.
Dan Akumulasi ini bisa menjadikan Rekognisi Pembelajaran Lampau/RPL

Melalui kesadaran untuk memenuhi standar kompetensi profesinya serta upaya untuk memperbaharui dan meningkatkan kompetensi profesional selama periode bekerja sebagai guru, PKB dilakukan dengan komitmen secara holistik terhadap struktur keterampilan dan kompetensi pribadi atau bagian penting dari kompetensi profesional. Dalam hal ini adalah suatu komitmen untuk menjadi profesional dengan memenuhi standar kompetensi profesinya, selalu memperbaharuimya, dan secara berkelanjutan untuk terus
Download Buku 1 s/d 5 PK Guru Dan Pengembangan  Keprofesian Berkelanjutan

Komponen PKB
1. Pelaksanaan Pengembangan Diri
2. Pelaksanaan Publikasi Ilmiah
3. Pelaksanaan Karya inovatif
Berikut baca Cara Menulis Artikel Ilmiah Pada Jurnal Balitbang Kemdikbud

Pelaksanaan PK GURU/PKG berikut Tujuan PKG dari Kemdikbud, dimaksudkan bukan untuk menyulitkan guru, tetapi sebaliknya PK GURU dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional, karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang bermutu. Menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, akan memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karir guru sebagai tenaga profesional. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bahwa setiap guru adalah seorang profesional di bidangnya dan sebagai penghargaan atas prestasi kerjanya, maka PK GURU harus dilakukan terhadap guru di semua satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Guru yang dimaksud tidak terbatas pada guru yang bekerja di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi juga mencakup guru yang bekerja di satuan pendidikan di lingkungan Kementerian Agama.
Download Buku 1 s/d 5 PK Guru Dan Pengembangan  Keprofesian Berkelanjutan

Pengertian PK GURU/Penilaian Kinerja Guru
Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, PK GURU adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan pengetahuan, penerapan pengetahuan dan keterampilan, sebagai kompetensi yang dibutuhkan sesuai amanat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Penguasaan kompetensi dan penerapan pengetahuan serta keterampilan guru, sangat menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran atau pembimbingan peserta didik, dan pelaksanaan tugas tambahan yang relevan bagi sekolah/madrasah, khususnya bagi guru dengan tugas tambahan tersebut. Sistem PK GURU adalah sistem penilaian yang dirancang untuk mengidentifikasi kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya melalui pengukuran penguasaan kompetensi yang ditunjukkan dalam unjuk kerjanya.

Lihat Contoh Cara Isi Nilai PKG SD,SMP,SMA

Secara umum, PK GURU memiliki 2 fungsi utama sebagai berikut.
1. Untuk menilai kemampuan guru dalam menerapkan semua kompetensi dan keterampilan yang diperlukan pada proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Dengan demikian, profil kinerja guru sebagai gambaran kekuatan dan kelemahan guru akan teridentifikasi dan dimaknai sebagai analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru, yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk merencanakan PKB.

2. Untuk menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah yang dilakukannya pada tahun tersebut. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsionalnya.
Hasil PK GURU diharapkan dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan mutu dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam menciptakan insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi. PK GURU merupakan acuan bagi sekolah/madrasah untuk menetapkan pengembangan karir dan promosi guru. Bagi guru,

PK GURU merupakan pedoman untuk mengetahui unsur-unsur kinerja yang dinilai dan merupakan sarana untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan individu dalam rangka memperbaiki kualitas kinerjanya.

Selengkapanya klik
Download Buku 1 sampai 5 PKG Dan PKB disini

Minggu, November 27, 2016

Guru Mulia karena Karya

Setiap tanggal 25 November, negeri ini memperingati Hari Guru. Berbagai kegiatan digelar. Para guru dan siswa melaksanakan upacara bendera. Guru adalah fondasi penting dunia pendidikan. Tanpa guru di berbagai tingkatan, bisa jadi dunia pendidikan akan mandeg. Hingga kini masih banyak guru yang mengabdi tanpa pamrih. Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, juga terus dilakukan. Tak hanya itu, kualitas guru pun terus ditingkatkan agar kwalitas anak didik juga berkualitas.

Hal itu penting untuk menghadapi persaingan dalam masyarakat global yang berlangsung sekarang ini. Peringatan Hari Guru tahun ini mengambil tema ”Mulia karena Karya”. Tema ini dinilai sangat relevan dengan kebijakan pemerintah dalam menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan.(suaramerdekacetak.com).

Berdasarkan tema tersebut, dapat diambil pesan bahwa kemuliaan seorang guru terletak pada karyanya. Dalam hal ini, karya guru dapat diartikan sebagai sebuah karya tulis ilmiah, hasil penelitian, karya inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan yang paling utama adalah kiprahnya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa sehingga melahirkan generasi penerus yang berilmu, terampil, dan berbudi pekerti luhur. Tugas seorang guru tidaklah mudah, bahkan bisa dikatakan cukup berat. Guru dihadapkan pada sejumlah tantangan yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan dampak negatif globalisasi. Tidak sembarang orang bisa menjadi guru. Seorang calon guru harus menjalani proses pendidikan profesi selama waktu tertentu hingga mendapatkakan sertifikat sebagai guru profesional sebagaimana yang diamanatkan undang-undang guru dan dosen.(
Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/idrisapandi/guru-mulia-karena-karya_5654ea3695937309057a9de6)

Senin, Oktober 17, 2016

Mendikbud: Tunjangan Sudah Diberikan Namun Guru Tak Juga Profesional

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy mengatakan sebagian besar guru di Indonesia belum profesional. Padahal, tunjangan profesi yang diberikan pada guru bertujuan agar guru bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. 

"Sampai sekarang sebagian besar belum profesional walaupun tunjangan profesinya sudah diterima," kata Muhadjir di Merauke, Provinsi Papua, Kamis, (6/1).

Ia mengatakan tunjangan profesi yang diberikan ternyata salah ditafsirkan oleh tenaga pendidik. "Dulu sebelum dia profesional sudah dikasih tunjangan supaya dia lebih profesional, ternyata lupa. Dia menikmati tunjangan tapi tidak profesional juga," ujarnya.

Sejak penetapan tunjangan profesi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pesertanya hanya tujuh persen dari jumlah total guru yang ada saat itu sehingga APBN yang dikeluarkan untuk membayar tunjangan hanya sebesar Rp7 triliun.

"Sekarang menjadi Rp 72 triliun lebih," katanya.

Ia menambahkan dari total sekitar tiga juta guru yang ada, baru 61 persen yang mendapat tunjangan profesi sehingga jika memproyeksikan seluruh guru menerima tunjangan maka dana yang dikeluarkan oleh negara cukup besar.

"Pemerintah harus menyiapkan setidaknya Rp 110 triliun. Bisa dibayangkan kalau uang ini dipakai untuk membangun sekolah di papua, berapa ratusan sekolah yang dibangun dari tunjangan profesi itu. Tunjangan sangat mahal, tetapi profesi gurunya tidak profesional-profesional dan ini menjadi tantangan kita," katanya. republika.com

Sumber : https://jetjetsemut.blogspot.co.id/2016/10/mendikbud-tunjangan-sudah-diberikan.html

Rabu, Oktober 21, 2015

200 Instrumen Soal UKG Rampung

JAKARTA,(PRLM).- Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah rampung menyiapkan 200 instrumen soal untuk Uji Kompetensi Guru (UKG). Modul tersebut terdiri dari jumlah dan jenis mata pelajaran yang berbeda sesuai jenjang pendidikan guru bertugas mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK.

Santi Ambarukmi, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Perencanaan Kebutuhan, peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi, Direktorat Jenderal Guru dan tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud menuturkan instrumen tes pada UKG kali ini memang sedikit berbeda dengan sebelumnya.

"Guru masing-masing jenjang pendidikan mendapatkan soal tes yang berbeda, sesuai berdasarkan kompetensi yang memang mereka kerjakan," ujarnya di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Kamis (15/10/2015) sore.

Selain itu, kompetensi bidang studi yang diujikan juga diberikan berbeda untuk guru yang telah tersertifikasi dan belum tersertifikasi. Bagi guru yang telah bersertifikat pendidikan, maka kompetensi bidang studi yang diujikan sesuai dengan bidang studi sertifikasi. Sementara bagi guru yang belum bersertifikat pendidikan, maka yang diujikan sesuai dengan kualifikasi akademik guru.

Menurut dia, ke-200 instrumen soal UKG tersebut dikembangkan oleh P4TK dan LP3TK KPTK dengan melibatkan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Dosen dari berbagai perguruan tinggi, hingga beberapa tenaga ahli dari perusahaan khusus untuk soal bagi guru SMK mata pelajaran produktif.

Total 3.015.315 guru, sudah termasuk 1,6 juta guru yang pada 2012 lalu telah mengikuti UKG.Jumlah guru tersebut terdiri dari 1.677.365 guru status PNS, 523.471 guru tetap yayasan (GTY), 717.257 guru tidak tetap (GTT), 91.963 guru honor daerah dan 5.259 guru bantu.

Adapun UKG 2015 akan digelar pada tanggal 9-27 November untuk UKG online, dan 24 november untuk UKG offline atau manual. (Disadur dari Google,  Penulis  : Siska Nirmala/A-89)***

Selasa, November 26, 2013

Selamat HUT PGRI dan Hari Guru 2013

FotoTidak banyak diantara kita yang tahu bahwa hari ini 25 November 2013 adalah Hari Guru Nasional 2013 dan Hari Ulang Tahun PGRI Ke-68. Tentu ada sebuah harapan besar di hari ulang tahun guru ini. Harapan besar itu adalah bersatunya para pendidik dalam satu wadah organisasi yang bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Suka atau tidak suka PGRI adalah salah satu organisasi pendidik terbesar yang diakui pemerintah, dan hari kelahiran PGRI kita peringati sebagai hari guru.
PB PGRI mengusung tema Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke 68 Tahun 2013 “Mewujudkan Guru yang Kreatif dan Inspiratif dengan Menegakkan Kode Etik untuk Penguatan Kurikulum 2013.” Hal ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan.
Kalau kita cermati struktur penduduk kita pada tahun 2010, terdapat 46 juta anak usia 0 sampai 9 tahun dan 44 juta anak usia 10 sampai 19 tahun. Jadi, sekarang ini kalau kita ingin mempersiapkan generasi 2045, tidak ada pilihan lain kecuali harus memperkuat layanan, baik akses maupun kualitas pendidikan kita, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pada tahun 2045, mereka akan berusia 35 sampai 44 tahun dan 45 sampai 55 tahun. Merekalah yang akan memimpin dan mengelola bangsa dan negara yang kita cintai ini. Mereka harus kita bekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan zamannya. Mereka harus memiliki kemampuan berpikir orde tinggi, kreatif, inovatif, berkepribadian mulia, dan cinta pada tanah air, serta bangga menjadi orang Indonesia, sebagaimana yang digagas dalam Kurikulum 2013.
Untuk itu, prinsip yang dikembangkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan adalah memberikan layanan pendidikan sedini mungkin (start earlier) melalui gerakan PAUD, memberikan kesempatan bersekolah setinggi mungkin (stay longer) melalui pendidikan menengah universal (PMU), dan peluasan akses ke perguruan tinggi. Selain itu, pemerintah juga memperluas jangkauan dan menjangkau mereka yang tidak terjangkau (rich wider) melalui program bantuan siswa miskin (BSM), Bidikmisi, dan sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (SM3T).
Hal ini dimaksudkan agar anak-anak Indonesia di manapun berada dan apapun latar belakang sosial dan ekonominya dapat memperoleh layanan pendidikan setinggi mungkin.
Pendidikan tersebut harus terjangkau dan berkualitas. Guru dan tenaga kependidikan menjadi faktor penentunya sehingga ketersediaan dan profesionalitas guru harus ditingkatkan
Tema diatas adalah sebuah momentum yang tepat, disaat gunjang-ganjingnya permasalahan bangsa, guru menjadi tambatan hati untuk menjadi publik figure dalam membentuk kepribadian dan karakter bangsa. Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan.
Disaat banyak media mengeksploitasi kebejatan moral para petinggi bangsa, di saat masyarakat mendambakan sebuah aksi perubahan yang sering dikampanyekan oleh juragan politik, bagaimana posisi seorang guru? Sungguh sayang sekali, justru disaat kebutuhan akan guru sangat mendesak untuk menambal sulam yang pensiun. Kenyataanya kebutuhan akan profesi guru harus di moratorium juga, walau banyak teriakan hausnya sebuah pendidikan bermutu banyak dilontarkan oleh corong-corong daerah. Kondisi objektif ini masih belum menunjukkan harapan yang signifikan antara keberimbangan pangsa pasar (peserta didik) dengan SDM (kuota guru) yang ada.
Hari Guru Nasional dan HUT PGRI yang ke 68, tahun ini adalah usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Seharusnya menjadi sebuah refleksi, renungan dan evaluasi bagi semua guru untuk membuka kembali lembar catatan dari banyak peristiwa, persoalan, tantangan, dan kendala yang telah dihadapi. Seberapa besar ponten yang dapat kita berikan untuk profesionalitas diri kita? Tentu, kita sendirilah yang bisa menjawabnya. Karena menjadi guru profesional bukanlah perkara gampang, maka perlu kesadaran dari diri kita juga yang harus memulainya untuk mengangkat citra profesi yang digugu dan ditiru. Citra guru yang baik akan mengangkat kualitas pendidikan itu sendiri. Dan pendidikan yang baik akan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Mudah-mudahan para guru selalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. “Tidak ada guru, tidak ada pendidikan, tidak ada pendidikan mustahil ada proses pembangunan”.
Hanya dengan sentuhan guru yang profesional, bermartabat, dan ditauladani, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu. Ada sebuah kalimat hikmah, “man yazra’ wa huwa yahsud”, artinya siapa yang menanam, dialah yang akan memanen. Jika kita menginginkan kebaikan bagi diri kita, maka mulailah dari diri kita untuk menebarkan kebaikan kepada orang lain. Dalam makna lain siapa yang menanam padi, dia akan memanen padi pula. Bahkan rumput pun akan tumbuh disekitar padi itu. Namun, siapa yang menanam rumput, jangan harap ada padi yang bisa tumbuh.
Oleh karena itu guru harus meningkatkan customer service bagi anak didiknya. Karena jasa-jasa guru akan terpatri dan guru akan selalu hidup dalam setiap kenangan dan langkah kehidupan anak didiknya, sebagaimana sering dilantunkan peserta didik dalam lagu Hymne Guru. Akhir dari tulisan ini, ada seuntai pesan kata bijak dari orang yang telah melanglang buana menikmati indahnya profesi guru. Prof. Dr. A. Malik Fadjar dalam tulisannya “Guru itu adalah cermin pendidikan, dan pendidikan itu akan tercermin dari para guru”. Semoga menjadi spirit buat para guru Indonesia dan direfleksikan dalam sisa perjalanan usia kita. Selamat Hari Guru Nasional dan Sukses untuk kita semua.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
By Muhammad Yuliawan on Senin, November 25

Sabtu, Januari 19, 2013

Lomba Lagu Pop : SMP Juara 1 dan 2

Ketangguhan para guru-guru SMP dalam menyanyi ternyata masih kuat. Terbukti dengan direbutnya posisi Juara 1 Putra oleh Pak Rangkuman dan Juara 2 Putri oleh Bu Gung Puspa. Selamat kepada mereka berdua.



Minggu, November 25, 2012

Tugas Guru adalah Mendidik dan Mengajar

Salah-satu hal yang paling saya tidak minati sebagai guru adalah harus membuat perangkat administrasi mengajar. Mulai dari Silabus, Program Tahunan, Program Semester, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), Pemetaan, Analisa KKM, dan sebagainya. Sebenarnya tujuan membuat perangkat itu baik. Yaitu supaya para guru bisa mengukur kemampuan para siswa, menambah atau mengurangi sub bahasan dari suatu pelajaran, dan juga sebagai alat evaluasi bagi Kepala Sekolah ketika melakukan supervisi kepada para guru.
Masalahnya, untuk membuat suatu perangkat yang lengkap dan benar-benar hasil kerja sendiri, memerlukan komitmen yang luar biasa. Pertama, mampu meluangkan waktu setiap usai mengajar untuk memperbaiki RPP yang telah disusun, agar sesuai dengan materi yang baru saja diajarkan. Kedua, mampu meneliti satu demi satu butir soal, baik dalam hal tingkat kesulitan maupun bobot nilai yang layak diberikan per soal. Ketiga, mampu menyusun semua yang telah dikerjakan ke dalam suatu laporan lengkap (beserta soal dan nilai, remedial yang dilakukan, dll) sesuai petunjuk teknisnya. Keempat, mampu menyisihkan anggaran khusus untuk mengetik, mencetak, menggandakan, dan menjilid rapih. Paling tidak ada arsip untuk disimpan sendiri. Dan kelima, yang paling penting, mampu bersabar bila semua fasilitas untuk mengetik dan mencetak tidak tersedia, baik di sekolah maupun di rumah masing-masing).
Namun, jangan kuatir, masih ada peluang membuat perangkat secara mudah dan praktis. Mulai dari mengunduh dari internet ataupun menggandakan dari perangkat milik teman. Sebagai catatan pastikan copy paste yang dilakukan rapih. Jangan sampai  yang tercantum adalah nama sekolah, nama guru, dan nama kepala sekolah orang lain. Beres kan ?
Menurut teori, kurikulum memberikan ruang untuk para guru bisa menyusun silabus dan “para prajuritnya” itu sesuai dengan kompetensi yang ada di sekolah masing-masing. Tapi itu nyaris tidak mungkin. Karena berkaitan dengan banyak hal. Paling utama sih dengan soal UN (untuk SMP/Mts dan SMA/SMK/MA) ataupun UASBN (untuk SD/MI). Bagaimana mungkin seorang guru membuat silabus sendiri dan sebagainya itu bila ternyata materi yang diajarkan tidak ada dalam soal UN ? Itu namanya buat masalah sendiri.
Oleh karena itu, mau tidak mau, akhirnya silabus nasional lah yang dipakai. Soal bagaimana kendalanya di lapangan, tanggungjawab sekolah masing-masing. Saya sering mengamati konsentrasi para siswa ketika belajar di kelas. Begini, satu jam pelajaran lamanya 40 menit. Rata-rata setiap mata pelajaran satu harinya adalah dua jam pelajaran, jadi 2 x 40 = 80 menit.
Biasanya 10 menit pertama adalah tahap peralihan dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran lain. Kemudian 10 menit kedua dilakukan semacam prolog, ataupun pre-test. Setelah itu, bila metode ceramah yang digunakan, maka siswa paling lama bertahan  20 menit untuk konsentrasi penuh ke depan. Bila disertai guyonan, maka mampu bertahan 30 menit. Selebihnya, bila diberikan tugas, maka ada jeda untuk buka buku, pinjam pulpen, pinjam penghapus/tip ex, ataupun pinjam buku ke kelas lain. Berikutnya, menunggu bel selesai pelajaran adalah hal yang paling ditunggu. Sering beberapa anak mencuri-curi kesempatan melihat jam, entah jam dinding ataupun di tangan sendiri.
Kalau para siswa setiap kelas hanya berjumlah 30 orang dan semuanya cerdas serta dari keluarga mampu, tentu tidak masalah. Mereka akan dengan cepat menyelesaikan tugas. Bahkan akan ada perdebatan di kelas bila ceramah ataupun jawaban guru tidak memuaskan. Tapi, bila satu kelas terdiri dari 48 siswa, dan hanya 10 yang tanggap, masih ditambah suara berisik dari kelas lain, kepanasan, sempit, juga bila letak sekolah di pinggir jalan besar, maka daya tahan siswa untuk konsentrasi penuh hanya 10 menit.
Bagi guru, masalahnya belum selesai. Bila setiap guru mendapat jatah mengajar 5 kelas, maka yang harus diperhatikan adalah 5 x 48 siswa =   240 siswa. Satu hari mengajar bisa 3 kelas. Selesai mengajar dari satu kelas ke kelas lain, ada tenggang waktu. Tenggang waktu inilah yang idealnya dipakai untuk merevisi RPP. Namun, kenyataannya, tenggang waktu lebih sering dipakai untuk sarapan, mengoreksi hasil pekerjaan siswa, memanggil siswa yang bermasalah, ataupun mengerjakan tugas-tugas struktural lain. Ada juga sih yang dipakai untuk ngobrol, sekedar sebagai merenggangkan otot otak yang kaku. Kan guru juga manusia ?
Kendala yang lain, bila guru mengajar monoton, sering meninggalkan kelas, ataupun tidak masuk padahal ada di sekolah, suasana sekolah bisa hiruk pikuk. Para siswa keluar dan mengganggu kelas lain. Latar para siswa juga berpengaruh. Ada yang dari keluarga bahagia, ada yang dari keluarga KDRT, ada yang keluarga berantakan, ada yang orang tuanya di PHK, ada juga yang mapan, dan macam-macam lagi.
Bila sudah begitu, saya akan menyerah bila disuruh membuat silabus dan sebagainya. Sebab silabus dan teman-temannya itu hanya berupa perangkat teknis. Sementara, bagi para siswa yang dibutuhkan adalah perhatian dan kesabaran dari gurunya. Para siswa ingin belajar tanpa takut akan di cela sebagai “anak bodoh”. Para siswa juga tidak bisa dipaksa harus pintar Matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan sebagainya. Para siswa ingin juga dibanggakan jika mereka terampil dalam seni maupun olah raga.
Lebih dari itu, setiap perkembangan seorang siswa dari satu tahap naik ke tahap berikutnya meski hanya 1 angka, tetaplah harus diapresiasi. Begitupun dari siswa yang pemalu dan pendiam menjadi aktif dan berani bertanya, patut dipuji diberi tepuk tangan oleh teman-temannya. Siswa yang nakal atau sering bolos, perlu ditelusuri latar belakangnya. Dan apapun kisah yang menjadi latar belakangnya tidak harus menjadi “label negatif” yang disikapi dengan sinis.
Sekarang ini guru seakan-akan dilimpahi banyak rezeki dari pemerintah. Sehingga guru pun dimintakan kewajiban untuk bekerja sebagaimana pegawai di bidang lain. Maka perangkat administrasi itulah yang dijadikan ukuran kinerja seorang guru, khususnya PNS. Seringkali karena harus mengerjakan perangkat dan berbagai tugas struktural, perhatian kepada para siswa jadi kurang. Kalaupun ada, lebih pada pemberian tugas, panggilan orang tua, dan sebagainya yang bersifat satu arah.Tidak heran tawuran terjadi dimana-mana.
Menurut saya kesemuanya itu sebenarnya hanya bisa diselesaikan dengan mengembalikan guru kepada tugasnya yang mulia, yaitu mendidik dan mengajar. Perangkat mengajar harusnya dalam bentuk yang lebih fleksibel agar tidak menjadi beban ataupun bahan bajakan.
Ditulis oleh : Rofatul Aftah (Guru Honorer di sebuah SMP Negeri dan ibu dari dua orang anak.)
Sumber asli : http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/17/tugas-guru-adalah-mendidik-dan-mengajar-508873.html

Jumat, November 16, 2012

FOTO PENYERAHAN HADIAH

Berikut  dokumentasi penyerahan hadiah Lomba Video Edukasi Tingkat SMP, SMA/SMK oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar Tahun 2012. 
Tampak dalam sasaran lensa, Arya dan pembinanya, Widia Putra. Selamat ya bro atas prestasinya!!!

Jumat, April 30, 2010

HARI PENDIDIKAN NASIONAL, 2 MEI 2010

Peringatan Hardiknas tahun 2010 di Yayasan Dwijendra akan dilaksanakan dengan mengadakan apel bendera pada hari Senin, 3 Mei 2010.
Apel ini akan diikuti oleh seluruh guru dan siswa dari TK, SD, SMP, SMA dan SMK se-lingkungan Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar. Sedangkan perangkat upacara akan dilaksanakan siswa-siswi SMA.

Jumat, November 27, 2009

SELAMAT HARI GURU KE 64 TAHUN 2009


Memperingati Hari Guru ke 64 dan PGRI yang jatuh pada tanggal 25 Nopember 2009, seluruh civitas akademika Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar melaksanakan Apel Bendera di Lapangan Yayasan.
Selaku pembina upacara adalah Bapak Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, Drs. Ida Bagus Gede Wiyana, dalam sambutannya mengatakan semua keberhasilan dan kegagalan siswa bersumber dari gurunya. Semua jadi pintar karena guru, tapi kalau masih ada yang bodoh itu juga karena guru.
Pada kesempatan itu juga diberikan hadiah sebuah sepeda motor kepada guru berprestasi dalam mengantarkan siswa-siswi Dwijendra dalam Kejuaraan VOVINAM di Vietnam yaitu I Wayan Suwita, S.Pd.

Minggu, Mei 31, 2009

PELATIHAN KOMPUTER


Setelah pegawai SMP Dwijendra, kini giliran guru-guru SMP Dwijendra mengikuti Pelatihan Komputer dengan materi Microsoft word, excel, power point dan internet selama 5 hari, 25 sampai dengan 29 Mei 2009.
Tercatat 26 orang guru yang akan mengikuti pelatihan tersebut. Akan tetapi karena kesibukan persiapan tes sumatif dan pemeriksaan ujian sekolah maka hari keempat dan kelima diundur ke hari Senin dan Selasa, 1 dan 2 Juni 2009.
Setelah pelatihan ini diharapkan setiap guru sudah bisa mengoperasikan komputer sampai membuat presentasi bahan ajar dan internet.