Selasa, November 19, 2019

Uji coba CBT Dwijendra

http://172401238636.ip-dynamic.com/unbk/login.php

Menurut SEVIMA.CO.ID – Kecanggihan teknologi di semua bidang tidak bisa dihindari termasuk dalam hal tes Penerimaan Mahasiswa Baru. Menanggapi serta mengikuti kemajuan dan perkembangan teknologi sudah seharusnya sistem ujian yang konvensional beralih ke sistem yang terkomputerisasi.
Computer Based Test atau Tes Berbasis Komputer adalah  tes dengan sistem pelaksanaan menggunakan komputer sebagai media untuk melakukan tes. Penyajian dan pemilihan soal CBT dilakukan secara terkomputerisasi sehingga setiap peserta yang mengerjakan tes mendapatkan paket soal yang berbeda-beda.
Pelaksanaan ujian dengan sistem CBT atau Computer Based Test tentu memiliki perbedaan dengan sistem PBT atau Paper Based Test dalam hal media pengerjaan. Peserta ujian menggunakan sistem CBT langgung dapat memilih jawaban yang benar pada layar komputer namun menggunakan sistem PBT peserta diwajibkan menghitamkan bulatan di kertas lembar jawaban.
Pada sistem CBT peserta ujian hanya perlu menggeser dan klik kursor pada jawaban yang dianggap benar. Namun dengan sistem PBT, peserta ujian juga dituntut untuk teliti supaya jawaban bisa terbaca saat dikoreksi dengan mesin pemindai. Kertas juga rentan berlubang jika menggunaakan perhapus yang kasar.
Sistem CBT mulai diterapkan pada Ujian Nasional tahun 2015 sekarang juga sudah mulai diterapkan pada ujian Penerimaan Mahasiswa Baru. Sistem ini dikembangkan untuk meminimalisasi kecurangan atau kebocoran soal yang sering terjadi pada saat ujian, mencegah keterbatasan soal, kerusakan pada soal sehingga tidak keluarnya hasil setelah diperiksa. Sistem CBT akan mengurangi biaya pelaksanaan karena tentu tidak diperlukannya mencetak soal dan lembar jawaban dengan kertas, distribusi soal, pengawalan soal dari pihak keamanan serta mengurangi biaya mengoreksi hasil ujian dengan scanning LJK dan scoring yang membutuhkan waktu lebih lama.
Selain itu ujian dengan sistem CBT, lebih praktis, lebih gampang dan membuat peserta ujian lebih fokus. Tidak ribet dan lebih hemat waktu karena tidak perlu lama-lama mengisi lembar jawaban, tidak perlu menghapus kalau ada yang salah, tidak adanya kesalahan pengisisan data diri dan kode soal. Terdapat waktu di layar sehingga bisa memaksimalkan waktu yang tersedia. Semakin efektifnya dalam mengerjakan soal tentu semakin banyak soal yang bisa dijawab dan pasti kemungkinan lulus juga semakin besar.
Berdasarkan fakta diatas, SMP Dwijendra Denpasar mencoba menerapkan CBT melalui kerjasama dengan Erlangga. Berikut ini link CBT Erlangga Dwijendra, silakan klik link tersebut. 

Link ini anda bisa klik dan aktif hari ini, Selasa 19 November 2019 jam 20.00 - 22.00 Wita. Diluar jam tersebut, anak-anak bisa login tapi tidak ada tes yang tersedia.

Karya Nyenuk Ring Piodalan Pura Mahawidya Dwijasrama Dwijendra


Repost dari Fajar Timur.
Beritafajartimur.com (Denpasar)
Masih dalam rangkaian upacara Piodalan Pedudusan Alit lan Karya Ngenteg Linggih Pura Mahawidya Dwijasrama Dwijendra, pada Selasa (12/11) yang diawali upacara mecaru, maka hari ini, Jumat (15/11) dilaksanakan prosesi Nyenuk dengan melibatkan seluruh civitas akademika Yayasan Dwijendra. Upacara ini dilaksanakan di halaman dalam Perguruan Dwijendra Pusat Denpasar dan dipuput oleh dua orang Pedanda, masing-masing: Ida Pedanda Wayahan Wanasari dari Gria Sanur dan Ida Pedanda Magelung dari Gria Grana Petang.
Wakil Rektor II Universitas Dwijendra, Drs. I Made Sila, M.Pd yang juga panitia Karya Pedudusan Alit lan Ngenteg Linggih Pura Mahawidya Dwijasrama Dwijendra mengatakan upacara Nyenuk ini sebenarnya dimaknai sebagai simbol kedatangan para dewa-dewi turun dari kahyangan untuk memberikan waranugraha atau anugrahnya
kepada umatnya agar upacara yang sudah dijalankan bisa berjalan lancar dan sukses.
“Upacara Nyenuk hari ini merupakan rangkaian upacara sebelumnya yang diawali dengan mecaru dan karya Ngenteg Linggih. Dan hari ini nyomia sara butha atau sara kala supaya kita dalam keadaan suka ria dan bergembira menyambut dewa-dewi. Ini dimaknai dengan 9 Penjuru Mata Angin atau diistilahkan dengan Dewata Nawa Sanga yang diiringi dengan tarian Rejang Renteng dan Rejang Dewa,” terangnya.

Dikatakan, upacara Nyenuk yang diistilahkan dengan simbol Dewata Nawa Sanga ini menggunakan busana warna warni. Timur pakai warna putih (dewa Siwa), Barat, warna Kuning (Mahadewa), Utara, warna hitam (Wisnu), dan Selatan, warna Merah (Brahma). Dimana, dari masing-masing pengiringnya ada yang memikul tebu dilengkapi pale bungkah pale gantung (hasil bumi) sebagai simbol para dewata membawa hasil bumi untuk sarana upacara. Busana Dewata Nawa Sanga yang diperankan ini hanya mengenakan kain terbalut sampai ke dada dan destar.
“Suasana upacara Nyenuk ini benar-benar khidmad ketika Dalem Sidakarya menyambut Dewata Nawa Sanga.
Setelah upacara Nyenuk akan dilanjutkan upacara Nyineb,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Dwijendra Dr. I Ketut Wirawan, SH, M.Hum., mengatakan bahwa dengan selesainya upacara yang diadakan dalam jangka waktu paling kurang 15 tahun sekali ini merupakan bukti kesiapan Civitas Akademika di lingkungan Yayasan Dwijendra untuk menyongsong masa depan yang lebih baik bahkan maju.
“Sebab secara niskala kita sudah melaksanakan upacara ini secara baik. Dengan harapan, semua komponen yang ada bisa bersinergi, bahu membahu dalam memajukan Dwijendra saat ini maupun masa mendatang. Tidak perlu lagi satu sama lain saling menyalahkan dan saling menghambat. Karena itu, mari kita saling mengampuni dan memaafkan. Jika ini sudah selesai, tentunya kita ciptakan kondisi yang senyaman mungkin demi kemajuan bersama,”harap Wirawan.
(BFT/DPS/Donny Parera)