Tampilkan postingan dengan label pgri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pgri. Tampilkan semua postingan

Senin, November 27, 2017

Hari Guru Tahun 2017




 


Hari PGRI dan Hari Guru Tahun 2017 di Yayasan Dwijendra Denpasar diperingati dengan melaksanakan upacara bendera. Pada saat itu juga diserahkan beberapa penghargaan atas prestasi dan dedikasi yang telah diperoleh oleh guru selama satu tahun. 
Untuk unit SMP juga diberikan penghargaan pada guru pavorit pilihan siswa yaitu Pak Komang Indra Sukma Amijaya dan Ibu Sri Puspita Novayanti. 


Minggu, November 27, 2016

Guru Mulia karena Karya

Setiap tanggal 25 November, negeri ini memperingati Hari Guru. Berbagai kegiatan digelar. Para guru dan siswa melaksanakan upacara bendera. Guru adalah fondasi penting dunia pendidikan. Tanpa guru di berbagai tingkatan, bisa jadi dunia pendidikan akan mandeg. Hingga kini masih banyak guru yang mengabdi tanpa pamrih. Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, juga terus dilakukan. Tak hanya itu, kualitas guru pun terus ditingkatkan agar kwalitas anak didik juga berkualitas.

Hal itu penting untuk menghadapi persaingan dalam masyarakat global yang berlangsung sekarang ini. Peringatan Hari Guru tahun ini mengambil tema ”Mulia karena Karya”. Tema ini dinilai sangat relevan dengan kebijakan pemerintah dalam menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan.(suaramerdekacetak.com).

Berdasarkan tema tersebut, dapat diambil pesan bahwa kemuliaan seorang guru terletak pada karyanya. Dalam hal ini, karya guru dapat diartikan sebagai sebuah karya tulis ilmiah, hasil penelitian, karya inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan yang paling utama adalah kiprahnya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa sehingga melahirkan generasi penerus yang berilmu, terampil, dan berbudi pekerti luhur. Tugas seorang guru tidaklah mudah, bahkan bisa dikatakan cukup berat. Guru dihadapkan pada sejumlah tantangan yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan dampak negatif globalisasi. Tidak sembarang orang bisa menjadi guru. Seorang calon guru harus menjalani proses pendidikan profesi selama waktu tertentu hingga mendapatkakan sertifikat sebagai guru profesional sebagaimana yang diamanatkan undang-undang guru dan dosen.(
Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/idrisapandi/guru-mulia-karena-karya_5654ea3695937309057a9de6)

Selasa, November 26, 2013

Selamat HUT PGRI dan Hari Guru 2013

FotoTidak banyak diantara kita yang tahu bahwa hari ini 25 November 2013 adalah Hari Guru Nasional 2013 dan Hari Ulang Tahun PGRI Ke-68. Tentu ada sebuah harapan besar di hari ulang tahun guru ini. Harapan besar itu adalah bersatunya para pendidik dalam satu wadah organisasi yang bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Suka atau tidak suka PGRI adalah salah satu organisasi pendidik terbesar yang diakui pemerintah, dan hari kelahiran PGRI kita peringati sebagai hari guru.
PB PGRI mengusung tema Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke 68 Tahun 2013 “Mewujudkan Guru yang Kreatif dan Inspiratif dengan Menegakkan Kode Etik untuk Penguatan Kurikulum 2013.” Hal ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan.
Kalau kita cermati struktur penduduk kita pada tahun 2010, terdapat 46 juta anak usia 0 sampai 9 tahun dan 44 juta anak usia 10 sampai 19 tahun. Jadi, sekarang ini kalau kita ingin mempersiapkan generasi 2045, tidak ada pilihan lain kecuali harus memperkuat layanan, baik akses maupun kualitas pendidikan kita, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pada tahun 2045, mereka akan berusia 35 sampai 44 tahun dan 45 sampai 55 tahun. Merekalah yang akan memimpin dan mengelola bangsa dan negara yang kita cintai ini. Mereka harus kita bekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan zamannya. Mereka harus memiliki kemampuan berpikir orde tinggi, kreatif, inovatif, berkepribadian mulia, dan cinta pada tanah air, serta bangga menjadi orang Indonesia, sebagaimana yang digagas dalam Kurikulum 2013.
Untuk itu, prinsip yang dikembangkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan adalah memberikan layanan pendidikan sedini mungkin (start earlier) melalui gerakan PAUD, memberikan kesempatan bersekolah setinggi mungkin (stay longer) melalui pendidikan menengah universal (PMU), dan peluasan akses ke perguruan tinggi. Selain itu, pemerintah juga memperluas jangkauan dan menjangkau mereka yang tidak terjangkau (rich wider) melalui program bantuan siswa miskin (BSM), Bidikmisi, dan sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (SM3T).
Hal ini dimaksudkan agar anak-anak Indonesia di manapun berada dan apapun latar belakang sosial dan ekonominya dapat memperoleh layanan pendidikan setinggi mungkin.
Pendidikan tersebut harus terjangkau dan berkualitas. Guru dan tenaga kependidikan menjadi faktor penentunya sehingga ketersediaan dan profesionalitas guru harus ditingkatkan
Tema diatas adalah sebuah momentum yang tepat, disaat gunjang-ganjingnya permasalahan bangsa, guru menjadi tambatan hati untuk menjadi publik figure dalam membentuk kepribadian dan karakter bangsa. Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan.
Disaat banyak media mengeksploitasi kebejatan moral para petinggi bangsa, di saat masyarakat mendambakan sebuah aksi perubahan yang sering dikampanyekan oleh juragan politik, bagaimana posisi seorang guru? Sungguh sayang sekali, justru disaat kebutuhan akan guru sangat mendesak untuk menambal sulam yang pensiun. Kenyataanya kebutuhan akan profesi guru harus di moratorium juga, walau banyak teriakan hausnya sebuah pendidikan bermutu banyak dilontarkan oleh corong-corong daerah. Kondisi objektif ini masih belum menunjukkan harapan yang signifikan antara keberimbangan pangsa pasar (peserta didik) dengan SDM (kuota guru) yang ada.
Hari Guru Nasional dan HUT PGRI yang ke 68, tahun ini adalah usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Seharusnya menjadi sebuah refleksi, renungan dan evaluasi bagi semua guru untuk membuka kembali lembar catatan dari banyak peristiwa, persoalan, tantangan, dan kendala yang telah dihadapi. Seberapa besar ponten yang dapat kita berikan untuk profesionalitas diri kita? Tentu, kita sendirilah yang bisa menjawabnya. Karena menjadi guru profesional bukanlah perkara gampang, maka perlu kesadaran dari diri kita juga yang harus memulainya untuk mengangkat citra profesi yang digugu dan ditiru. Citra guru yang baik akan mengangkat kualitas pendidikan itu sendiri. Dan pendidikan yang baik akan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Mudah-mudahan para guru selalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. “Tidak ada guru, tidak ada pendidikan, tidak ada pendidikan mustahil ada proses pembangunan”.
Hanya dengan sentuhan guru yang profesional, bermartabat, dan ditauladani, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu. Ada sebuah kalimat hikmah, “man yazra’ wa huwa yahsud”, artinya siapa yang menanam, dialah yang akan memanen. Jika kita menginginkan kebaikan bagi diri kita, maka mulailah dari diri kita untuk menebarkan kebaikan kepada orang lain. Dalam makna lain siapa yang menanam padi, dia akan memanen padi pula. Bahkan rumput pun akan tumbuh disekitar padi itu. Namun, siapa yang menanam rumput, jangan harap ada padi yang bisa tumbuh.
Oleh karena itu guru harus meningkatkan customer service bagi anak didiknya. Karena jasa-jasa guru akan terpatri dan guru akan selalu hidup dalam setiap kenangan dan langkah kehidupan anak didiknya, sebagaimana sering dilantunkan peserta didik dalam lagu Hymne Guru. Akhir dari tulisan ini, ada seuntai pesan kata bijak dari orang yang telah melanglang buana menikmati indahnya profesi guru. Prof. Dr. A. Malik Fadjar dalam tulisannya “Guru itu adalah cermin pendidikan, dan pendidikan itu akan tercermin dari para guru”. Semoga menjadi spirit buat para guru Indonesia dan direfleksikan dalam sisa perjalanan usia kita. Selamat Hari Guru Nasional dan Sukses untuk kita semua.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
By Muhammad Yuliawan on Senin, November 25

Rabu, September 25, 2013

Bali Post : PGRI Desak Pemerintah Atur Gaji Guru Swasta

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bali mendesak pemerintah pusat secepatnya menerbitkan peraturan pemerintah (PP) yang secara khusus mengatur sistem penggajian guru di sekolah-sekolah swasta. Pasalnya, sampai saat ini masih banyak sekali guru yang mengabdi di sekolah swasta dihargai dengan gaji yang rendah bahkan di bawah standar upah minimum regional (UMR). Ketua PGRI Bali Drs. I Gede Wenten Aryasuda, M.Pd. mengatakan hal itu kepada Bali Post, Selasa (24/9) kemarin.

Menurut Wenten Aryasuda, pemerintah wajib meningkatkan perhatiannya terhadap tingkat kesejahteraan guru-guru swasta. Ditegaskan, kontribusi guru-guru swasta dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa sangat besar mengingat jumlah siswa yang menuntut ilmu di sekolah swasta relatif lebih tinggi dibandingkan yang bersekolah di negeri. "Pemerintah juga punya kewajiban menjamin kesejahteraan mereka dengan menerbitkan regulasi kebijakan yang berpihak kepada guru-guru swasta. Sudah saatnya pemerintah menerbitkan PP yang secara khusus mengatur sistem penggajian guru-guru swasta," ujarnya.

Wenten Aryasuda menambahkan, saat ini belum ada standar gaji minimal yang layak bagi guru-guru swasta sehingga penyelenggara pendidikan swasta tidak punya acuan dalam sistem penggajian guru-gurunya. Terkait hal ini, PGRI sebenarnya sudah berulang kali membahasnya pada Kongres PGRI agar pemerintah secepatnya menerbitkan PP yang mengatur sistem penggajian guru-guru swasta.

"PP ini merupakan hal yang urgen mengingat jumlah anak bangsa yang bersekolah di swasta jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang sekolah di negeri. Apabila kesejahteraan gurunya tidak terjamin, bagaimana kita bisa berharap mereka akan mengabdi dengan optimal dalam mencerdaskan anak bangsa," katanya retoris.

Kepala SMP PGRI 2 Denpasar ini juga memprotes kebijakan pemerintah pusat yang memangkas jatah pembagian tunjangan fungsional untuk guru-guru swasta. Dikatakan, hal ini menunjukkan bahwa komitmen pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru-guru swasta masih setengah hati. Pasalnya, ada sejumlah guru swasta yang tahun anggaran sebelumnya sudah sempat menikmati tunjangan yang nilainya Rp 200 ribu per bulan terpaksa harus kehilangan haknya pada tahun anggaran 2012 ini. "PGRI sangat menyesalkan kebijakan pemerintah yang memangkas jumlah guru swasta yang berhak menerima tunjangan fungsional. Apalagi, pemangkasan itu berlangsung setiap tahun anggaran," katanya menyesalkan.

Jumat, November 27, 2009

SELAMAT HARI GURU KE 64 TAHUN 2009


Memperingati Hari Guru ke 64 dan PGRI yang jatuh pada tanggal 25 Nopember 2009, seluruh civitas akademika Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar melaksanakan Apel Bendera di Lapangan Yayasan.
Selaku pembina upacara adalah Bapak Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, Drs. Ida Bagus Gede Wiyana, dalam sambutannya mengatakan semua keberhasilan dan kegagalan siswa bersumber dari gurunya. Semua jadi pintar karena guru, tapi kalau masih ada yang bodoh itu juga karena guru.
Pada kesempatan itu juga diberikan hadiah sebuah sepeda motor kepada guru berprestasi dalam mengantarkan siswa-siswi Dwijendra dalam Kejuaraan VOVINAM di Vietnam yaitu I Wayan Suwita, S.Pd.