Bagi Yang Berminat

Minggu, Maret 13, 2016

Try Out Siap Ujian SD 2016 Sukses

SMP Dwijendra Denpasar kembali menggelar try out Ujian Akhir untuk Sekolah Dasar (SD) se Kota Denpasar, Minggu 13 Maret 2016.
Jumlah peserta yang mendaftar mencapai 1.235 orang. Jumlah ini melampaui pendaftaran tahun-tahun sebelumnya.

Sabtu, Februari 27, 2016

Pentas seni budaya

Menutup penilaian ujian praktek sekolah tahun pelajaran 2015/2016 dilaksanakan pentas seni budaya bertempat di aula lantai III Yayasan Dwijendra Denpasar.
Semua siswa berlomba-lomba menampilkan kreativitas baik secara perorangan maupun kelompok.
Selamat berkreativitas .

Kamis, Februari 25, 2016

Disdikpora Denpasar Gelar Ujian Pemantapan 12.901 Siswa

Denpasar (Antara Bali) - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar tetap melaksanakan ujian pemantapan yang diikuti 12.901 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang diselenggarakan selama dua hari hingga Kamis (25/2).

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga Kota Denpasar I Made Raka di Denpasar, Rabu mengatakan, uji pemantapan tersebut tetap dilakukan di Denpasar meski Disdikpora Provinsi Bali tidak menyelenggarakan uji pemantapan itu.

"Ujian pemantapan oleh Disdikpora Pemkot Denpasar bertujuan untuk melatih anak-anak agar lebih siap menghadapi ujian nasional. Untuk mengetahui permasalahan dan kesiapan sekolah pada hari pertama dilakukan pemantauan ke sejumlah sekolah, antara lain SMPN 12 Denpasar, SMP Widya Sakti dan SMP 2 PGRI Denpasar," ujarnya.

Raka mengatakan, Pemerintah Kota Denpasar tetap menyelenggarakan ujian pemantapan meski Pemerintah Provinsi tidak melaksanakannya. Ujian pemantapan ini masih dilaksanakan untuk melatih anak-anak untuk kesiapannya menghadapi ujian nasional mendatang.

Di samping itu, kata Raka, pelaksanaan ujian nasional dilakukan evaluasi, sehingga para guru dapat menambah atau pengayaan terhadap bahan-bahan mata pelajaran yang perlu ditingkatkan melalui kepala sekolah masing-masing.

Ia menjelaskan, soal ujian pemantapan ini juga disesuaikan dengan ujian nasional yang menyediakan 10 paket soal. Dengan kualitas soal bobotnya lebih berkualitas dan tinggi. Begitu juga para siswa saat ujian nasional menjadi terbiasa.

Peserta yang mengikuti ujian pemantapan di Kota Denpasar sebanyak 12.901 orang dari 56 sekolah negeri dan swasta se-Kota Denpasar. Sedangkan untuk pengawasan dalam ujian ini pihaknya menyilang," ujarnya.

Untuk ke depan ia berharap siswa itu memiliki integritas dan nilai tinggi. Sesuai dengan visi dan misi "Padmaksara" Wali Kota Denpasar salah satunya peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan di setiap sekolah. Sehingga sekolah wajib hukumnya mencerdaskan kehidupan bangsa itu.

"Melalui sekolah saya yakin mampu mengubah kehidupan masyarakat, selain itu guru-guru juga berperan penting dalam keberlanjutan proses belajar mengajar," katanya.

Dari hasil pemantauan (monitoring) yang dilaksanakan ada beberapa sekolah masuk kategori sekolah ramah anak yakni di SMP 2 PGRI Denpasar. Karena sekolah itu rindang, tersedia ruang pendingin (AC) setiap kelas, sehingga siswa menjadi aman, nyaman dan tenang dalam belajar.

Kepala SMP 2 PGRI Denpasar Dr Gede Wenten Aryasuda MPd mengatakan, meski ujian nasional tidak menentukan kelulusan, namun akan bermanfaat bagi siswa, karena nilai UN akan dipergunakan sebagai alat seleksi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Hal itu berarti ada kompetensi, artinya siswa itu tetap belajar, karena kewajiban siswa memang belajar agar menjadi anak kreatif, inspiratif dan inovatif. Tanpa belajar siswa tidak bisa inovatif dan kreatif untuk itu kami ucapan terima kasih kepada pemkot karena tetap menyelenggarakan `try out` ini," katanya.

Selain itu pendidikan juga sebagai tumpuan meningkatkan SDM. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas sumbernya adalah dari pendidikan oleh karena itu lembaga pendidikan harus didorong dan ditingkatkan serta perhatian khusus dalam memenuhi sarana pendidikan sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan.

Kepala Sekolah SMP Widya Sakti I Wayan Nendra S.Pd menambahkan, sebelum ujian pemantapan diselenggarakan pihaknya telah melakukan uji coba pemantapan bekerja sama dengan beberapa bimbingan belajar.

Selain itu, kata Nendra, pihaknya juga mengadakan les tambahan, pengayaan, klinik akademik setiap hari Sabtu. Sehingga dalam ujian pemantapan ini tidak ada permasalahan. Dan untuk jumlah siswa yang mengikuti ujian pemantapan sebanyak 281 orang dan kelas yang digunakan ada sebanyak 15 kelas.

Untuk ruang satu hingga 13 masing-masing yang ujian sebanyak 20 orang, ruang 14 sebanyak 13 orang dan ruang 15 sebanyak 11 orang.

Sedangkan untuk SMPN 12 Denpasar ruangan yang digunakan untuk ujian pemantapan sebanyak 19 kelas dan siswa yang mengikuti ujian sebanyak 379 orang. (WDY)

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: I Gusti Bagus Widyantara

Ujian Praktek 2016

Dalam perayaan hari raya Galungan dan Kuningan kegiatan kelas IX tetap berlangsung.
Pada kesempatan ini dilaksanakan ujian praktek yang dilaksanakan pagi hari. Berikut dokumentasinya

Selasa, Desember 29, 2015

Workshop Penguatan Kurikulum

Mengisi libur akhir semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016, keluarga besar SMP Dwijendra Denpasar mengadakan workshop tentang penguatan materi kurikulum 2013 selama tiga hari.
Workshop dimulai Senin, 21 Desember sampai Rabu, 23 Desember 2015. Dengan narasumber tunggal Koordinator Pengawas (Korwas) Kota Denpasar, Dra. Ni Nyoman Kartiniasih.
Pada kesempatan tersebut diberikan pengarahan tentang persiapan akreditasi sekolah. Karena sekolah SMP Dwijendra Denpasar akan kembali mengajukan diri untuk dapat mengikuti akreditasi pada kesempatan berikutnya.
Hasil akhir dari workshop tersebut adalah pengumpulan kelengkapan administrasi guru yang diterima paling lambat Januari 2016.

Selasa, Desember 22, 2015

Tirtayatra ke Pura Alas Purwo dan Gunung Arjuno

Dalam mengisi libur akhir semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016, SMP Dwijendra Denpasar mengajak guru dan pegawainya melaksanakan tirtayatra dari tanggal 14 sampai 17 Desember 2015.
Adapun tujuan tirtayatra hari pertama adalah Pura Luhur Gili Salako di Alas Purwo. Rombongan berangkat dari Denpasar jam 04.30 dengan dua bus menuju Gilimanuk. Pukul tujuh pagi rombongan tiba di Pura Rambut Siwi dan peserta berkesempatan mohon tirta supaya selamat sampai tujuan.
Setelah itu rombongan berangkat lagi dan sampai di Pelabuhan Gilimanuk jam 9 pagi dan langsung menyebrang ke Ketapang Banyuwangi.
Perjalanan sekarang menuju Pura Blambangan untuk menghaturkan persembahyangan dan berganti bus dengan lokal transport. Inilah yang paling berkesan.
Rombongan akhirnya tiba di Pura Alas Purwo pukul 1 siang waktu Denpasar. Setelah menghaturkan persembahyangan dan mendengarkan cerita asal muasal Pura Luhur Gili Salako dari Pemangku setempat, rombongan diperkenankan melihat satu wilayah yang belum dibangun tapi dipercaya sebagai tempat yang sakral selain pura yang sudah ada. Pada saat ini banyak rombongan merasa aura mistis sangat kuat.

Raportan dan Libur Semester Ganjil 2015-2016

Tanpa terasa tahun pelajaran 2015/2016 telah berjalan satu semester. Ini ditandai dengan pembagian raport pada tanggal 11 Desember 2015, mendahului satu hari karena 12 Desember 2015 bertepatan dengan perayaan tumpek landep di Bali.
Sedangkan libur semester ganjil berlangsung dari 14 sampai 26 Desember 2015. Pada hari senin, 28 Desember 2015 siswa SMP Dwijendra Denpasar kembali masuk seperti biasa pada siang harinya.
Pada saat pembagian raport ini seperti biasa diumumkan para siswa yang mendapat juara umum pada masing-masing tingkat seperti berikut :
Untuk kelas VII
Juara umum 1
Juara umum 2
Juara umum 3
Untuk kelas VIII
Juara umum 1
Juara umum 2
Juara umum 3
Untuk kelas IX
Juara umum 1
Juara umum 2
Juara umum 3
Selamat kepada para juara dan semoga prestasinya dapat ditingkatkan lagi.
Untuk kelas IX ditengah libur ini jadwal pengayaan (les) materi UN pada tanggal 21 s/d 23 Desember 2015 mulai pukul 07.30 - 10.45.

Sabtu, November 28, 2015

Hari Raya Saraswati

MAKNA DAN INTI PERAYAAN HARI RAYA SARASWATI

Hari raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Hari raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis wuku Watugunung.

Di hari Saraswati biasanya pagi2 para siswa sekolah sudah sibuk mempersiapkan upacara sembahyang di sekolah masing2, sehabis itu biasanya para siswa melanjutkan sembahyang ke pura2 lainnya. Dan pura yang menjadi paforit adalah pura Jagatnatha yang ada dipusatkota. Di sekolah, di pura, di rumah maupun di perkantoran semua buku, lontar, pustaka2 dan alat2 tulis di taruh pada suatu tempat untuk diupacarai.Adamitos pada hari Saraswati tidak diperbolehkan untuk menulis dan membaca lho…

Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya.

Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan.

Beliau disimbolkan sebagai seorang dewi yang duduk diatas teratai dengan berwahanakan se-ekor angsa (Hamsa) atau seekor merak, berlengan empat dengan membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kiri membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan gitar membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kin membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan veena atau bermudra memberkahi.

Makna dan simbol-simbol ini adalah:

1. Berkulit putih, bermakna: sebagai dasar ilmu pengetahuan (vidya) yang putih, bersih dan suci.

2. Kitab/pustaka ditangan kiri, bermakna: Semua bentuk ilmu dan sains yang bersifat se-kular. Tetapi walaupun vidya (ilmu pengetahuan spiritual) dapat mengarahkan kita ke moksha, namun avidya (ilmu pengetahuan sekular jangan diabaikan dulu). Seperti yang dijelaskan Isavasya-Upanishad: “Kita melampaui kelaparan dan da-haga melalui avidya, kemudian baru melalui vidya meniti dan mencapai moksha.”

3. Veena, bermakna : seni, musik, budaya dan suara AUM. Juga merupakan simbol keharmonisan pikiran, budhi, kehidupan dengan alam lingkungan.

4. Akshamala/ganatri/tasbih di tangan kanan, bermakna: Ilmu pengetahuan spiritual itu lebih berarti daripada berbagai sains yang bersifat secular (ditangan kiri). Akan tetapi bagaimanapun pentingnya kitab-kitab dan ajaran berbagai ilmu pengetahuan, namun tanpa penghayatan dan bakti yang tulus, maka semua ajaran ini akan mubazir atau sia-sia.

5. Wajah cantik jelita dan kemerah-merahan, bermakna: Simbol kebodohan dan kemewahan duniawi yang sangat memukau namun menye-satkan (avidya).

6. Angsa (Hamsa), melambangkan: Bisa me-nyaring air dan memisahkan mana kotoran dan mana yang bisa dimakan, mana yang baik mana yang buruk, walaupun berada di dalam air yang kotor dan keruh maupun Lumpur, (simbol vidya).

7. Merak , bermakna: berbulu indah, cantik dan cemerlang biarpun habitatnya di hutan. Dan ber-sama dengan angsa bermakna sebagai wahana (alat, perangkat, penyampai pesan-pesan-Nya).

8. Bunga Teratai/Lotus, bermakna: bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan bunga yang in-dah walaupun hidupnya di atas air yang kotor.

Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai

Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning.

Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.

Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram “Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami“.
Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan).
Ambil beras kuning dengan mantram : “Om, kung kumara wijaya Om phat“.
Masukkan kedalam sesangku.
Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:
Mantra Artinya
Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam. Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan.
Om, Pranamya sarwa dewanca
para matma nama wanca.
rupa siddhi myaham. Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.
Om Padma patra wimalaksi
padma kesala warni
nityam nama Saraswat. Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati.
Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya.
Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram:
Om, Saraswati sweta warna ya namah.
Om, Saraswati nila warna ya namah.
Om, Saraswati pita warna ya namah.
Om, Saraswati rakta warna ya namah.
Om, Saraswati wisma warna ya namah.
Kemudain dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati
Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).
Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)
Dewi Saraswati.
Ucapkan mantra berikut:
Mantramnya Artinya
Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah.
Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha. Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia.
Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja.
Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya. Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.
Om, Saraswati namostu bhyam,
Warade kama rupini,
Siddha rastu karaksami,
Siddhi bhawantume sadam. Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.
Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut :

Meketis3 kali dengan mantram:
Om, Budha maha pawitra ya namah.
Om, Dharma maha tirtha ya namah.
Om, Sanghyang maha toya ya namah.
Minum 3 kali dengan mantram:
Om, Brahma pawaka.
Om, Wisnu mrtta.
Om, Içwara Jnana.
Meraup3 kali dengan mantram :
Om, Çiwa sampurna ya namah.
Om, Çiwa paripurna ya namah.
Om, Parama Çiwa suksma ya namah.
Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati
MAKNA PEMUJAAN KEPADA DEWI SARASWATI.

Pada masyarakat awam bertanya apa maksud menyembah dewa-dewa atau dewi-dewi melalui simbol-simbol atau patung, gambar dan sebagai-nya? Padahal Tuhan hanya satu, kenapa ada ba-nyak dewa atau dewi?

Dewa berasal dari kata”div” yaitu sinar/pan-caran. Pengertiannya adalah bahwa Tuhan itu adalah satu, tapi mempunyai aspek-aspek de-ngan pancaran sinar-Nya (Nur Illahi) yang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. ang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. Pada saat menciptakan disebut Brahma, saat memelihara disebut Wishnu, dan saat pendaurulang disebut Shiwa, dan sebagainya. Tapi sebenarnya Brahma, Wishnu, Shiva adalah satu (Trimurti).

Paradewa ini mempunyai pendamping (Shak-ti), yaitu: Brahma shakti-Nya Saraswati, Wishnu shakti-Nya Lakshmi dan Shiwa shakti-Nya Parvati (Durga). Disini Dewi Saraswati sebagai aspek Tuhan Yang Maha Esa pada saat menganugrah-kan/munurunkan ilmu pengetahuan (vidya), ke-cerdasan, ucapan, musik, budaya dan seba-gainya. Demikian pula dijabarkan dalam konsep Gayatri yang terdiri dari tiga aspek, yaitu: Saras-wati menguasai ucapan/tutur kata, Gayatri me-nguasai intelek/budhi dan savitri yang menguasai prana/nafas.

Jadi makna pemujaan Dewi Saraswati adalah memuja dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memfokuskan pada aspek Dewi Sa-raswati (simbol vidya) atas karunia ilmu penge-tahuan yang di karuniakan kepada kita semua, sehingga akan terbebas dan avidyam (kebodoh-an), agar dibimbing menuju ke kedamaian yang abadi dan pencerahan sempurna.

Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati

Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.

Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:

Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.

MAKNA DARI PERAYAAN DEWI SARASWATI.

Dari perayaan ini kita dapat mengambil hik-mahnya, antara lain:

1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua.

2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebe-naran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi.

3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidak-benaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk melek/eling/bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.

4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.

5. Kita masih memerlukan/mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan peng-hayatan dan bakti yang tulus.

6.Laksanakan Puja/sembahyang sesuai de-ngan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus/ihlas, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain.
Isi Dikutip dari Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Warmadewa. Foto dari Mr. Wednesday